Pembelajaran Daring Pascasarjana: Dampak Covid 19 Terhadap Ekonomi Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Covid-19 menjadi sebuah tragedi besar yang melanda hampir seluruh negara di dunia. Wabah berbahaya yang berasal dari China ini telah merenggut nyawa lebih dari satu juta penduduk dunia dan telah menyebar dengan sangat cepat.

Selain membahayakan kesehatan manusia, Covid-19 juga memberikan dampak besar di berbagai sektor, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada tahun 2020, dampak Covid-19 di sektor ekonomi menjadi yang paling parah. Bagaimana bisa?

Rantai Dampak Covid-19 di Sektor Ekonomi

Pandemi yang disebabkan oleh Covid-19 telah membuat masyarakat menjadi lebih waspada terhadap kerumunan, sehingga pemerintah membuat kebijakan social distancing dan pembatasan jumlah kerumunanan dalam satu zona.

Berbagai sektor industri, ekonomi, dan pariwisata terdampak. Keputusan pengurangan jumlah karyawan, misalnya. Seluruh elemen kehidupan manusia terganggu, begitu juga dengan pendidikan. Banyak negara menutup sekolah, dari pendidikan anak usia dini, dasar, menengah hingga perguruan tinggi (Diploma, Sarjana, Pascasarjana), termasuk negara Indonesia.

 

Pada akhirnya dampak Covid-19 di sektor ekonomi mengakibatkan kenaikan jumlah pengangguran secara drastis di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Tidak cukup sampai disitu saja, hal ini juga akan menyebabkan tingkat kesejahteraan berkurang, tingkat kriminalitas menjadi meningkat, dan kemudian berujung pada terganggunya kesehatan fisik dan mental masyarakat.

 

Apa Upaya yang Dilakukan Pemerintah?

Pemerintah tentunya sudah melakukan berbagai cara dan upaya dalam penanganan dampak Covid-10 di sektor ekonomi Indonesia. Ada dua diantaranya, yaitu:

1. Kebijakan Pembatasan Sosial Secara Berskala

Pembatasan sosial tetap bergantung pada kebijakan pemerintah daerah masing-masing. Namun untuk di ibukota sendiri, pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilakukan selama dua minggu atau lebih.

Kemudian ketika mulai terjadi penurunan jumlah terdampak Covid-19, kita beralih perlahan ke New Normal.

Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan surat edaran nomor 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) yaitu proses belajar dari rumah. Kebijakan ini diambil untuk mengurangi risiko penularan, dengan belajar dari rumah bagi peserta didik, termasuk bekerja dari rumah (work from home) bagi para guru dan para pegawai pemerintah . Kebijakan ini menuntut pembelajaran dilakukan secara online. Salah satu strategi online yakni dengan pembelajaran dalam jaringan (daring) dengan platform e-learning. Sehingga terjadi migrasi secara massif dari model konvensional (tatap muka di kelas) menuju modern dengan perangkat teknologi.

 

Tuntutan era revolusi industri dikuatkan dengan bencana COVID-19, yaitu penguatan penggunaan teknologi. Ini merupakan ujian dari sisi kekuatan atas teknologi. Sehingga menuntut suatu system pendidikan berbasis teknologi. Kendala ada pada masyarakat berkaitan dengan pembiasaaan penggunaan dan akses teknologi. Teknologi pembelajaran yang canggih berbasis online yang digunakan belum mampu menggantikan pelaksanaan pembelajaran tatap muka. Karena metode interaksi tatap muka konvensional masih jauh lebih efektif dibandingkan pembelajaran online (daring) atau elearning.

 

 

 

2. Bantuan Insentif untuk Rakyat Menengah Kebawah

Dampak yang besar pada sektor ekonomi sangat berdampak pada kesejahteraan masyarakat, terutama yang terpaksa harus di-PHK.

Pemerintah berusaha mengurangi beban masyarakat dengan memberikan insentif dalam berbagai bentuk, beberapa diantaranya seperti insentif Prakerja bagi pengangguran, insentif sembako untuk setiap kepala keluarga, hingga insentif bantuan untuk pelaku UMKM terdampak Covid-19.

 

dampak corona