Oleh Dr. GN Masdjojo (Direktur Pasca Sarjana Unisbank)

Covid 19 merupakan istilah yang tidak asing lagi bagi kita semua. Di Indonesia istilah tersebut menjadi fokus perhatian di awal bulan Maret 2020. Covid 19 merupakan singkatan dari Corona Virus Diseas 2019. Istilah itu diambil dari nama virus yang mematikan yang pertama kali muncul penyebarannya  di kota Wuhan Cina pada bulan Desember 2019. Pada waktu itu di Indonesia baru sebagian kecil orang yang panik dan resah atas virus tersebut. Mereka hanyalah para orang tua atau keluarga yang anak-anak atau anggota keluarga (kita sebut WNI) sedang belajar di sana. Mereka pun mulai mendesak pemerintah untuk segera memulangkan para WNI tersebu.

 Alasan utama mereka  karena Kota Wuhan telah di “LOCK DOWN”, sehingga mereka sangat  kuatir akan keselamatan para WNI tersebut. Terlepas dari pro kontra proses pemulangan para WNI tersebut, akhirnya  mereka dipulangkan dengan pesawat TNI dan langsung diisolasi di pulau Natuna selama 14 hari. Pada tanggal 15 Pebruari 2020 ke 248 WNI, 5 Staf KJRI dan 122 kru pendukung yang diobservasi dinyatakan sehat,  sehingga boleh pulang ke rumah masing-masing  melalui Bandara Halim Perdanakusuma. Mereka diberi Sertifikat oleh Pemerintah yang menyatakan “Sehat atau Bebas Virus Corona”. Bahkan  ke 248 WNI tersebut dinobatkan sebagai Duta Kesehatan di daerah masing-masing (Liputan 6.com).

Dengan membaca berita tersebut kita beranggapan bahwa  wabah  COVID 19 hanyalah masalah di Wuhan Cina saja. Dengan kata lain Indonesia dalam kondisi aman.  Kita  bersikap  tidak perlu kuatir dan terus saja menjalankan rutinitas seperti biasa. Ada pembiaran kepedulian terhadap ancaman Covid 19 itu. Tetapi sikap ini kemudian pudar setelah mendengar pengumuman dari  World Health Organization (WHO) melalui Direktur Jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus yang dalam Konferensi Pers pada tanggal 11 Maret 2020 menyatakan bahwa Covid 19 telah dikategorikan sebagai “Pandemi Global”. Pengumuman itu keluar setelah jumlah infeksi seluruh dunia sudah mencapai angka 121.000 orang (Jenewa, Kompas.com; 11/3/2020). Selanjutnya perkembangan kasus Covid 19 di seluruh dunia setelah tanggal 11 Maret 2020  hingga saat ini terus bergerak secara eksponensial tidak terkecuali Indonesia. Ketika artikel ini ditulis di Indonesia sudah menembus angka terkonfirmasi 10,843 kasus dengan rincian dirawat 8347 pasien, meninggal 831 pasien, sembuh 1,665 dengan urutan yang paling besar jumlah kasus yaitu wilayah Jakarta 4,397 pasien, Jawa Barat 1,403, Jawa Timur 1,037 dan Jawa Tengah 767 pasien.

Semenjak itu dari berbagai berita kita ketahui bahwa seluruh dunia mulai panik. Yang terjadi  bukan lagi sebagian kecil orang , tetapi sudah menjadi sebagian besar orang (kalau tidak mau disebut seluruh)  yang sudah mulai panik dan peduli dengan Covid 19. Ada berbagai hal yang menjadi penyebab kepanikan global itu. Namun semuanya harus dikendalikan melalui mitigasi risiko yang sistematis dan terukur. Semuanya harus bermuara pada komitmen bagaimana cara terbaik untuk memutus mata rantai penyebaran virus tersebut.

Seluruh Pimpinan Negara atau Wilayah dan Institusi di planet bumi dipaksa mengeluarkan berbagai kebijakan (Protokol Kesehatan Antisipasi Covid 19). Ada Kebijakan Kesehatan yang kita kenal dengan istilah “Lock Down”, Karantina Wilayah, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan di Jawa Tengah kita kenal dengan istilah Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) atau gerakan Jogo Tonggo.

Sadar atau tidak sadar kemudian kita semua dipaksa untuk belajar mengalami suatu cara-cara hidup baru baik secara rohaniah urusan peribadatan keagamaan maupun cara-cara hidup individu, keluarga maupun sosial. Kita semua dipaksa untuk masuk dan menerima perubahan itu. Kita semua dipaksa untuk taat pada aturan Protokol Kesehatan seperti jaga jarak, pakai masker, hindari kerumunan (meeting on line), minum vitamin dan jamu, berjemur jam 10, istirahat yang cukup, isolasi mandiri dan rajin mencuci tangan. Itu semua telah menjadi gerakan masal yang mengglobal.

Apabila flash back  ke tahun 2019 dari berbagai catatan ditemukan bahwa kondisi dan situasi ini tidak pernah masuk dalam perhitungan para ahli perencanaan baik bidang bisnis maupun pemerintahan sebagai disturbance error yang sangat super signifikan pengaruhnya. Proyeksi kinerja Pemerintahan, kinerja Ekonomi Global dan Nasional, kinerja Bisnis secara Institusional yang berorientasi profit (bentuk keserakahan manusiawi) menunjukkan optimisme yang tinggi. Semua percaya akan mengakhiri tahun 2020 dengan hasil yang tumbuh, berkembang dan bagi bisnis akan terus tumbuh profit yang diperoleh.  Semua memamerkan arogansi  proyeksi (rational econometrics calculation) seolah  disturbance error relatif kecil bahkan cenderung nihil (nol). Hal itu merefleksikan  kemampuan kalkulasi manusiawi yang lupa bahwa kepastian itu relatif. Lupa sejatinya manusia  adalah makhluk beraga yang berjiwa,  individu yang sosial dan  otonom yang dependen.

Apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa pandemi Covid 19 ?

A. Rontoknya arogansi manusiawi.

Dari perspektif waktu kita sudah melewati triwulan pertama bahkan mau mengakhiri triwulan kedua atau mau menghabiskan semester I tahun 2020. Dalam hitungan bulan kita sudah masuk dalam bulan ke 5 tahun 2020. Seharusnya rapor masing-masing sudah menunjukkan signal positif kalau asumsinya normal. Namun Covid 19 telah membalikan asumsi menjadi super abdnormal. Fakta secara global menunjukkan bahwa berbagia proyeksi harus dikoreksi menuju kecenderungan negatif. Untuk memperkuat argumentasi pernyataan tersebut, disini penulis coba mengurai hanya dalam 2 perspektif representasi  (Walau belum tentu benar).

1.Kinerja Pemerintahan :

Hampir seluruh pemerintahan di dunia harus mengoreksi ulang proyeksi-proyeksi optimisme yang cenderung positif menjadi proyeksi-proyeksi pesimistic yang cenderung negatif pada tahun 2020, bahkan bisa berkelanjutan ke tahun 2021 (awal recovery). Seluruh Pemerintah dunia harus mengakui: defisit APBN semakin besar, inflasi semakin naik, pertumbuhan ekonomi rendah bahkan bisa negatif, mata uang domestiknya terus terdepresiasi pada level yang over valued, cadangan devisa terus menipis karena deficit Neraca Pembayaran semakin besar, angka pengangguran meningkat, pendapatan per kapita menurun, daya beli menurun dan angka kemiskinan bertambah. Pemerintah negara manapun tidak perlu malu lagi mengakui hal itu karena tidak bisa lagi dipakai sebagai alat kemenangan politis (urusan kekuasaan).

2.Kinerja  Ekonomi :

Ada pergeseran-pergeseran prestasi ekonomi pada tahun 2020. Setelah sekian bulan Covid 19 merebak ke seluruh dunia, maka keluarlah proykesi baru bahwa tahun 2020 dunia memasuki resesi ekonomi. Beberapa Lembaga penting dunia seperti JP Morgan memprediksi ekonomi dunia minus 1,1 %, EIU memprediksi ekonomi dunia minus 2,2 %, Fitch memprediksi ekonomi dunia minus 1,9 % dan International (IMF) memprediksi ekonomi dunia minus 3 %. Hal itu merupakan SIGNAL bahwa sebagian besar raksasa pendukung pertumbuhan ekonomi suatu negara harus tiarap akibat Covid 19. Kecanggihan (sophisticated) yang mereka miliki tidak mampu menggerakan mesin ekonomi berjalan dengan baik. Inilah dimensi rontoknya arogansi kemanusiaan kita yang menurut Ilmu Ekonomi sebagai Homo Homini Lupus.

B. Tumbuhnya keimanan dan tepo seliro :

 Kita bersyukur bahwa untuk menyeimbangkan keserakahan manusiawi melalui arogansinya, sisi rohaniah kita dipecut untuk lebih baik lagi. Kita semua melalui institusi agama masing-masing diajak untuk mampu membaca wabah Covid 19 ini dari kaca mata iman sebagai peringatan atau ujian atau siksaan. Terlepas yang mana dari ketiganya yang benar, maka kita semua sebagai umat manusia secara umum diajak untuk melakukan MAWAS DIRI melalui langkah awal melakukan BERBAGAI PERTOBATAN. Bentuknya adalah berupa pertobatan individual, pertobatan keluarga, pertobatan komunitas, pertobatan institusional, pertobatan wilayah dan pertobatan ekologis global. Keimanan kita masing-masing sedang ditumbuhkan dan dikembangkan lagi dengan peristiwa ini. Kehadiran Covid 19 telah menjadi the Best Teacher  untuk yang mengajarkan satu hal penting bahwa semuanya harus patuh dan taat pada aturan Guru Sejati yaitu Allah SWT sebagai Sang Khalik, Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa Sang Empunya  alam raya beserta isinya. Sang Guru Sejati sedang menyapa kita semua melalui peristiwa wabah Covid 19.  Berkaca dari dampak meninggalnya pasien Covid 19, kita sadar bahwa kita hanyalah seonggok daging yang tidak berarti apa-apa lagi. Di sana tidak ada lagi seromoni penghormatan terakhir.

Kehadiran Covid 19 juga  telah menjadi sarana peringatan bagi kita semua untuk lebih mengedepankan lagi tepo seliro, tenggang rasa, bela rasa atau peduli sosial dan peduli pada alam raya. Dalam satu harmoni yang sama kita diingatkan untuk menjaga keseimbangan ragawi dengan rohani , individu dengan sosial, , atasan dengan bawahan, pemimpin dengan rakyat, orang yang lebih tahu dengan kurang/tidak tahu, orang yang berkecukupan dengan orang berkekurangan, orang yang merasa diri hebat dengan orang yang biasa-biasa saja. Kita juga harus menjaga harmoni antara kita manusia dengan lingkiungan alam (harmoni ekologis). Kita sebagai makhluk yang Super dibanding hewan/binatang dan tumbuhan diingatkan oleh Sang Guru Sejati untuk menggunakan rasionalitas secara efektif sebagai manager kehidupan yang lebih baik. Kita semua dipanggil dan diutus oleh Sang Guru Sejati untuk menjaga keberlanjutan kehidupan di planet bumi sebagai rumah kita bersama.

Penutup

Dari perspektif Ilmu Ekonomi, kita perlu mengubah fungsi konsumsi kita. Kalau sebelumnya secara matematis konsumsi merupakan fungsi dari pendapatan (C = f(Y)), sekarang harus diubah menjadi konsumsi merupakan fungsi dari tabungan (kalau ada) (C = f (S)).  Atau kita perlu mengubah penggunaan pendapatan kita yang mungkin selama ini terlalu serakah (arogan) dengan kecenderungan konsumsi yang disebut  Marginal Propensity to Consume (MPC) > 75 % atau identik dengan kecenderungan menabung yang disebut Marginal Propensity to Save (MPS) < 25 %. Dalam masa Covid 19 perlu dibalik MPC < 25 % dan MPS > 75 %.

 Maknanya kita harus lebih banyak berpuasa untuk menyongsong masa depan yang tidak pasti (uncertainty and unpredictible) menjadi masa depan yang penuh harapan dan lebih baik (BONUM COMMUNE= Kebaikan bersama). Akhirnya OJO DUMEH, ubah  Homo Homini Lupus  menjadi  Homo Homini Socius, lakukan syukur tanpa henti dengan cara “Terus Berbagi Walau Kita Kekurangan”.

Selamat hari pendidikan 2 Mei 2020 untuk kita semua insan-insan pendidikan. “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”.

Selamat menjalankan Ibada Puasa 1441 H.